Travel Digital di Era Millenial
Sepanjang 2018, sektor pariwisata salah satu yang paling banyak mendatangkan devisa bagi Indonesia. Dalam menyongsong era industri digital, pemerintah juga menargetkan terciptanya 1.000 technopreneur pada tahun 2020, dengan valuasi bisnis mencapai USD 100 miliar dan total nilai e-commerce sebesar USD 130 miliar. Menteri Pariwisata, Arief Yahya telah mengajak pelaku industri pariwisata yang termasuk dalam organisasi ASITA untuk menerapkan digital dan milennial tourism di Indonesia. Digital & Millennial Tourism untuk dikembangkan dan diterapkan di Indonesia sangatlah penting karna tanpa itu, industri kepariwisataan Indonesia tidak akan bisa bersaing dengan pasar dunia. Kementerian Pariwisata akan meningkatkan Go Digital sebagai program untuk era industri 4.0. Traveller Journey 4.0 dalam berwisata dimulai dari inspirasi (mendapat ide berlibur), melakukan riset dan perencanaan liburan, mem-booking pesawat dan hotel, berada di airport, sampai di destinasi dan menikmatinya, hingga setelah liburan selesai. Para Provider platforms yang akan menyediakan 3A (akomodasi, amenitas, dan aksesibilitas atau transportasi).
Memang sudah saatnya setiap destinasi wisata menggunakan digital dan millenial tourism, dikarenakan tidak hanya mempermudah para wisatawan namun juga mempermudah para pengusaha yang bergerak di bidang bisnis wisata untuk materi promosi platformnya masing-masing.
Contoh platform travel yang sedang berkembang di Indonesia, yaitu: Grab, Tiket.com, Traveloka, Airy, dll. Puluhan platform digital baru tumbuh maupun yang sudah bertahun-tahun yang melakukan bisnis wisata dengan pasar millennials, saling berbagi pengalaman mengenai perkembangan bisnis untuk millennial agar bisa berinovasi lebih lanjut.